Tenang: Tak Hilang, Tersimpan Untuk Nanti Pulang

Tanggal Terbit : 17 November 2025

Ingatkah bahwa manusia lahir dengan perjanjian? Tak akan terbelit di lidah, tak tuli di telinga, tak remang-remang di mata, tak kebas di sentuhan, tak hilang aroma di hidung, dan tak pernah gelap apalagi hilang di hati tatkala teringat perjanjian dengan-Nya. (Q.S 7: 127). Perjanjian sebelum manusia ditakdirkan berpetualang untuk sebuah misi dengan pesan: Jaga keimanan dan bergegaslah! Tak akan lama. Maka senantiasa bersiaplah untuk kembali pulang kepada-Nya. (QS. 3: 133).

Sudahkah bergegas untuk bersiap pulang kepada-Nya atau sedang bergegas untuk terus membangun serta memperkokoh suatu ruangan yang tak akan abadi? (Q.S 57: 20). Waktu mungkin menyembunyikannya dalam sudut memori, nyaris terlupakan, hingga sebuah sentuhan kecil menyingkapnya hingga nampak jelas kembali. (Q.S 103: 1-3).

Mulailah dengan menyadari kembali arah tujuan hidup sejati. Untuk apa kita diciptakan oleh-Nya? Lebih dari 1 milenium yang lalu, Malaikat Jibril sang penyampai wahyu telah menunaikan tugasnya hingga tersampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Surah Az-Zariyat (51): 56).

Menurut Mufasir tanah air dari Maninjau yang bernama Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dijelaskan bahwa ibadah berawal dari keimanan kepada Allah Swt., yaitu rasa percaya hanya kepada-Nya. (Tafsir Al-Azhar). Maka jagalah keimanan hingga tertancap kuat dalam hati, supaya ketika membuktikan keimanan tersebut dengan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari dapat bernilai ibadah dan hanya tertuju akan rida-Nya bukan bergantung pada amalnya. (Kitab Al-Hikam).

Niat sudah tuntas dengan keimanan, selanjutnya bagaimana cara agar dapat melaksanakan ibadah dengan tata cara yang terbaik? Tentunya dengan mengikuti petunjuk dari Allah Swt. yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an serta dengan mengikuti suri taudalan dari manusia terbaik yang diutus untuk umat, yakni Nabi Muhammad Saw.

Maka agar tak menyesal tatkala sampai di rumah ketika pulang nanti, selagi masih diberikan kesempatan untuk pertualang jangan lupa bersiap untuk mengumpulkan bekal dengan melaksanakan tiga amal saleh sebagaimana yang disebutkan dalam hadis tersebut, yaitu:

  1. Sedekah jariyah.

Mengapa lebih memilih membangun suatu bangunan yang akan sirna sampai lupa membangun yang akan kekal abadi? Tak boleh terjebak dalam rupa sebab dunia memang penuh dengan tipu daya, tapi selamilah makna agar sampai pada tujuan yang utama.

Pada ajaran Islam, tak melarang manusia mempunyai kemewahan namun jangan sampai seperti yang dijelaskan dalam surah At-Takatsur. Mari mulai membangun yang kekal abadi dengan sedekah tanpa menyakiti diri sendiri. Maka pahala akan terus mengalir (HR. Muslim No. 1631), balasan berlipat ganda akan didapati tatkala di dunia dan di akhirat (Q.S 57: 18), mendapatkan naungan pada hari kiamat (HR. Bukhari No. 660 dan Muslim No.1031), dan puncaknya surga yang begitu luasnya akan ditempati (Q.S 3:133).

  1. Ilmu yang bermanfaat berupa ilmu agama yang diajarkan kepada orang lain dan orang lain tersebut terus mengamalkannya.

Mengapa merasa tersaingi oleh seorang murid yang sudah lebih cerdas dari gurunya? Padahal amal saleh murid tersebutlah yang akan menyelamatkan guru tersebut di akhirat kelak bukan?

Tak usah merasa rugi berbuat kebaikan untuk orang lain, terlebih dalam ilmu karena kebaikan tak akan pernah hilang sebab kebaikan itu akan kembali lagi kepada diri kita. (Q.S 17:7).

  1. Pendidikan orang tua yang berhasil mendidik keturunannya menjadi anak yang saleh.

Adab sebelum ilmu, ilmu sebelum amal. Tatkala ada seseorang begitu gigihnya menjaga aset harta dengan dijaga ketat oleh petugas keamanan, terus digolangkan oleh ahli keuangan agar tak berkurang, dan terus ditambah dengan kerja banting tulang siang hingga malam, sampai pada suatu hari tatapan layaknya beningnya embun di pagi hari terpancar dari mata sang buah hati yang menatap penuh dengan harapan dan kerinduan, rindu akan hadirnya sepasang manusia yang paling berarti dihidup sang buah hati.

Dunia dan akhirat harus seimbang, lebih baik ketika dunia dijadikan tunggangan untuk berpetualang di alam dunia untuk mengapai kebahagian sejati di akhirat kelak. (Nashoihul Ibad).

Harta sejatinya adalah titipan dari-Nya. Akan tetapi, ada titipan yang seharusnya lebih diprioritaskan untuk dijaga dengan pendidikan yang taat, dijaga agar tak berkurang keimanannya kepada Allah Swt., dan terus ditambah kesalehannya dengan kegigihan jiwa dan raga dalam mendidiknya dengan ilmu agama Islam, prioritas tersebut ialah sang buah hati.

Kelak tatkala tangan yang terangkat menengadah ke langit, kepala yang sujud berbisik ke bumi dari seorang anak saleh meimnta kepada Allah Swt. untuk keselamatan orang tuanya. Itu yang dapat menyelamatkan kehidupan dunia dan akhirat.

Bangun dan sadarlah! Mari bergegas untuk kembali menepati janji agar petualangan yang dilakoni tak mengkhianati pesan yang telah diamanahi. (Q.S 11: 90) Sedekah itu sirna dalan rupa, kekal dalam makna. Ilmu bermanfaat itu menabur harapan di ladang waktu. Mendidik anak menjadi saleh itu menjaga diri dari khianat nestapa, demi kemuliaan yang abadi dihadapan sang Ilahi.

“Berhentilah menghabiskan energi hanya untuk suatu hal yang sudah ditakdirkan akan binasa, fokus pada tujuan hidup yang sejati, tunaikan janji, dan mulai menyimpan untuk keselamatan di alam yang abadi.”

Disusun oleh : 

Referensi : Teguh Saputra

  • Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka
  • Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari
  • Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani

Artikel Lainnya

Valuing Time, Valuing People

Valuing Time, Valuing People

Tentang Menghargai Waktu, Manusia, dan Nilai di Antara Keduanya Ada masa ketika hidup berjalan cepat: kita tenggelam dalam rapat, tenggat, dan target hingga lupa bahwa waktu dan manusia adalah dua...

×