Antara Hujan dan Ilmu

Tanggal Terbit : 16 May 2024

Sahabat Binekas, akhir-akhir ini kita sudah masuk ke dalam musim penghujan. Alhamdulillah, saat kemarin-kemarin kita mengeluh cuaca panas, gerah, dan gersang, sekarang sudah mulai merasakan kesejukan dengan turunya hujan. Tak hanya manusia yang mendapatkan manfaatnya, namun makhluk Allah yang lain pun, seperti hewan dan tumbuhan, merasakan manfaat adanya hujan. Namun adakalanya, hujan juga tak jarang membuat orang-orang khawatir. Karena dengan turunya hujan, ada juga tempat-tempat yang terkena musibah banjir. Maka hal ini menjadi seolah-olah bertentangan, ada yang merasakan manfaat ada juga yang merasakan madharat.

Namun apakah sahabat Binekas tahu? Ternyata Rasulullah Saw telah menggambarkan fenomena hujan yang turun membasahi bumi dengan ilmu yang diturunkan kepada manusia. Rasulullah Saw membuat sebuah perumpamaan hujan yang turun ke bumi dengan ilmu yang diturunkan kepada kita, hal ini terdapat dalam Shahih Bukhari, Kitabul Ilmi, Bab Fadhli Man ‘Alima wa ‘Allama (Keutamaan orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu) yang diriwayatkan oleh Abu Musa.

عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

Dari Abi Musa dari Nabi Saw bersabda, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun mengenai tanah. Diantara tanah itu ada jenis yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan di antaranya ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang) sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan yang lain ada permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. perumpamaan itu adalah seperti orang yang faham agama Allah dan dapat memanfa’atkan apa yang aku diutus dengannya, dia mempelajarinya dan mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat derajat dan tidak menerima hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya.” (HR. Bukhari, no hadits 77, no 79 dalam Kitab Fathul Bari)

Dalam hadits tersebut tentunya ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama (syar’i), Rasulullah Saw menggambarkan hujan dengan kata al-ghatis, padahal jika kita lihat dalam Bahasa Arab ada juga kata yang berarti hujan yaitu al-mathar. Mengapa Rasulullah Saw menggunakan kata al-ghaits bukan al-mathar?

Coba kita perhatikan firman Alla Swt berikut,

وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرٗاۖ فَسَآءَ مَطَرُ ٱلۡمُنذَرِينَ 

“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (Qs. Asy-Syuara: 173)

ثُمَّ يَأۡتِي مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ عَامٞ فِيهِ يُغَاثُ ٱلنَّاسُ وَفِيهِ يَعۡصِرُونَ 

“Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur.”. (Qs. Yusuf: 49)

Penulis : Fakhri Fauzan Azhari

Artikel Lainnya

No Results Found

The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.

×